Penulis: Yusuf Paisal || Editor: Masyhari

Kedawung – Sesuai dengan program kerja yang sudah dirancang dalam kepengurusan periode 2021-2022 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sahabat Literasi Institut Agama Islam Cirebon (SLI), Divisi Kaderisasi mempunyai program unggulan yakni pelatihan intensif.

Pelatihan intensif atau mini class perdana digelar pada Jumat (7/1/2022) sore bertempat di ruang microteaching IAI Cirebon. Mini Class yang digelar perdana yaitu dalam penulisan berita atau jurnalistik.

Yusuf Paisal, selaku koordinator Divisi Kaderisasi, mengatakan bahwa program pelatihan intensif ini akan diselenggarakan pada pekan pertama dan ketiga setiap bulannya dalam bidang dan kelas yang berbeda.

“Mini Class ini terdiri dari 8 (delapan) kelas yaitu kelas editing video, kelas editing naskah, kelas desain grafis, kelas sastra, kelas jurnalistik (berita dan feature), kelas artikel populer, kelas publik speaking, dan kelas riset dan penulisan artikel ilmiah,” jelas Yusuf.

Sementara itu, Malia, selaku koordinator program, menuturkan bahwa targetnya, peserta kelas jurnalistik ini diharapkan bisa menjadi reporter dan penulis berita kegiatan yang ada di lingkungan kampus, baik yang menjadi program kampus ataupun kegiatan yang digelar oleh organisasi kemahasiswaan, semisal Dema, Hima dan UKM.

Sementara itu, Masyhari, selaku pembina SLI sekaligus mentor kelas penulisan berita berharap agar nantinya kelas jurnalistik tidak hanya diikuti oleh pengurus dan anggota SLI, tapi oleh para mahasiswa IAI Cirebon di luar UKM SLI juga.

“Usahakan teman-teman SLI berkoordinasi dengan seluruh Ormawa di kampus. Ajak Dema, Himpunan Mahasiswa semua Program Studi dan UKM yang ada di kampus untuk ikut di kelas ini, sehingga di setiap Ormawa punya reporter yang meliput berita kegiatan masing-masing,” kata Masyhari kepada pengurus SLI.

Pada pertemuan pertama kelas jurnalistik, Masyhari, menyampaikan tentang dasar-dasar dan teknik dalam mendapatkan sebuah berita.

“Unsur-unsur yang harus kita dapatkan dalam sebuah berita adalah 5W+1H. Yang pertama yaitu what, apa peristiwa atau kegiatan yang terjadi? Yang kedua yaitu when, kapan terjadinya peristiea? Ketiga yaitu who, siapa saja yang menjadi pelaku utama atau yang terlibat dalam kegiatan? Keempat yaitu where, di mana lokasi kegiatan tersebut berlangsung? Kelima yaitu why, mengapa dan apa alasan serta tujuan kegiatan tersebut? Dan yang terakhir yaitu how, ceritakan bagaimana kegiatan tersebut berlangsung,” jelas Masyhari.

Lebih lanjut, direktur Rumahbaca.id ini, mengatakan bahwa metode untuk mendapatkan berita yaitu dengan melakukan observasi atau terjun langsung ke lokasi kejadian, wawancara dengan informan atau narasumber kunci, dan dokumentasi atau mengumpulkan data-data yang terkait dengan peristiwa. Selain itu, bisa juga dengan melakukan survei atau menyebarkan angket.

Usai pemaparan materi, para peserta diminta untuk mengamati koran atau surat kabar yang menjadi langganan kampus, seperti Republika dan Suara Cirebon, untuk mengamati struktur yang tersaji dalam sebuah berita, baik dari segi diksi, teknik penggunan kutipan, penempatan tanda baca, ataupun yang lainnya.

“Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas, para sahabat bisa mengamati berita di koran yang kalian pegang saat ini,” katanya.

Terakhir Masyhari berpesan kepada para peserta agar banyak berlatih dengan sering membaca buku dan berita di media, baik cetak maupun online.

“Saya berharap, para sahabat semua mau meningkatkan jam terbang dalam menulis berita, agar semakin terlatih dan terbiasa menulis berita dengan baik. Lakukan peliputan terhadap setiap kegiatan yang ada di kampus, lalu tulis beritanya, agar kalian terlatih dan semakin piawai dalam menulis berita,” lanjut Masyhari.

Sebagai penutup, para peserta diberi tugas berupa menulis berita, khususnya terkait kegiatan yang ada di seputar kampus. Harapannya, agar para peserta terlatih dalam membuat berita dan bisa berkontribusi dalam mengisi konten berita dan meramaikan Web kampus iaicirebon.ac.id.[]