Penulis: Ati Latifah || Editor: Masyhari
Tuparev – Menyongsong pembukaan Program Pascasarjana, Institut Agama Islam Cirebon menggelar acara kuliah umum, Kamis siang, 19 Mei 2022, bertempat di gedung pertemuan Islamic Centre Kabupaten Cirebon.
Kuliah umum bertema “Kiat Sukses PTKIS di Era Siber” tersebut menghadirkan Prof. Dr. Suyitno, M.Ag, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag RI, sebagai narasumber.
Berlangsung dengan hikmat dan meriah, kuliah umum dihadiri oleh rektor IAI Cirebon, para wakil rektor, ketua dan para pengurus Yayasan Islamic Center, para ketua Prodi, para dosen, dan ratusan mahasiswa/i IAI Cirebon.
Acara dibuka dengan kesenian Tari Topeng Kelana, tari tradisional khas Cirebon, yang dibawakan oleh Nur Hazizah, mahasiswi Prodi Hukum Keluarga Islam IAI Cirebon.
Dalam kesempatan sambutan mewakili ketua Yayasan Islamic Centre (YIC), H. Lili Jumali, M.Pd., menyampaikan bahwa YIC adalah Yayasan yang bergerak di bidang sosial, pendidikan dan keagamaan. “Dalam rangka menjalankan visi misi sosialnya, kami berkomitmen penuh untuk mengupayakan pengembangan dan fasilitas belajar agar mampu tercipta atmosfir akademik yang kondusif,” terangnya.
Pihak YIC juga akan terus mengawal untuk terealisasinya Program Pascasarjana di IAI Cirebon, agar mampu mencetak alumni-alumni yang siap bekerja dan mengabdi di bidangnya masing-masing.
Sementara itu, Ahmad Dahlan, selaku Rektor IAI Cirebon mengatakan bahwa mahasiswa/i adalah mahasiswa yang berprestasi dalam bidang dan bakatnya masing-masing.
“Dibuktikan tadi dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh mahasiswi IAI Cirebon yang merupakan seorang qari’ juara tingkat nasional, juga penampilan kesenian tradisional tari topeng kelana khas Cirebon,” terang Ahmad Dahlan.
Selain itu, lanjut Ahmad Dahlan, di kampus IAI Cirebon juga terdapat sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa yang mengakomodir minat dan bakat mahasiswa di bidang seni, literasi, dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan kuliah umum tersebut, Suyitno, direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam RI mengatakan bahwa Jawa Barat dan khususnya Cirebon memiliki Perguruan Tinggi Islam terbanyak di Indonesia.
“Meskipun dekat dengan Ibu Kota Jakarta, ternyata Cirebon memiliki banyak kampus swasta, dan bisa berkembang cukup baik dengan mahasiswa yang cukup banyak jumlahnya,” katanya.
Dengan demikian, lanjut Suyitno, wilayah Cirebon, selain kota wali, bisa dikatakan merupakan kota pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Suyitno menekankan kepada civitas akademika, khususnya mahasiswa yang hadir, agar tidak perlu merasa inferior, rendah diri, tidak konfiden.
Karena menurutnya, perguruan tinggi, apa pun statusnya, baik negeri maupun swasta, mempunyai kedudukan yang sama. “Bahkan perguruan tinggi swasta memiliki kesempatan yang lebih luas dalam mengembangkan diri, sebab diberi kebebasan lebih dalam melakukan tata kelola lembaga dan keuangan,” jelasnya.
Kepada para mahasiswa, Suyitno mendorong agar mereka lebih aktif, produktif dan kreatif mengikuti tuntutan perkembangan zaman yang serba digital. “Mahasiswa harus bisa menggunakan smartphone sebagai media belajar,” lanjutnya.
Selain itu, lanjutnya, mahasiswa harus memaksimalkan potensi dirinya untuk mengasah dan mengembangkan keterampilannya. “Mumpung masih kuliah, kita perbanyak kompetensi, keahlian dan keterampilan, baik akademik maupun non akademik, di dalam kampus dan di luar kampus. Karena semakin banyak keterampilan, semakin besar peluang untuk mendapatkan pekerjaan, serta kreatif membuka lapangan pekerjaan,” terangnya.
Begitu juga dengan dosen, harus bisa mengikuti perkembangan teknologi, tidak hanya membebani mahasiswanya dengan tugas, sebab idola mahasiswa saat ini sudah bukan lagi dosennya. “Murid dan mahasiswa kini lebih mengidolakan smartphonenya,” imbuhnya.
Oleh karena itu, lanjut Suyitno, dosen harus bisa mentransformasi dari personal menjadi impersonal, untuk mengatasi learning lost.
Selain itu, Suyitno berpesan kepada seluruh civitas akademika kampus agar berjiwa visioner dan berpikir futuristik. “Kita harus bicara masa depan, bisa memprediksi merencanakan masa depan, tidak sebatas bicara sekarang, apalagi mundur ke belakang, agar kita bisa maju dan berkembang,” pungkas Suyitno. ***
Recent Comments