Oleh: Achmad Syaefur Rokhim
Dosen pengampu mata kuliah Pengantar Studi Islam di IAI Cirebon.

Cirebon, Jumat 29 Desember 2023 sejumlah 22 mahasiswa/i IAI Cirebon mengimplementasikan mata kuliah Pengantar Studi Islam dengan mendatangi beberapa situs sejarah. Dengan menggaungkan tema Etika dan Tasawuf, mahasiswa/i semester I ini membakar semangatnya untuk berwisata religi mengunjungi komplek makam Gunung Sembung, ziarah makam Syekh Syarif Hidayatullah atau biasa dikenal oleh khayalak ramai dengan Sunan Gunung Jati dan sekaligus ziarah ke makam istri Sunan Gunung Jati yaitu Nyi Ong Tien Nio.

Komplek makam Gunung Sembung terletak di Dusun Astana, Desa Astana, Kecamatan Cirebon Utara. Letaknya di sebelah barat jalan raya yang menghubungkan Cirebon dan Indramayu. Sedangkan untuk memasuki komplek makam harus ditempuh dengan berjalan kaki dari jalan raya melewati jalan kecil sekitar 500 m. Sejarah mencatat komplek makam Sembung dibangun pada tahun 1400 saka yang ditandai dengan candra sengkala “Sirna Tanana Warna Tunggal”. Sunan Gunung Jati adalah tokoh utama yang dimakamkan di dalam komplek tersebut sedangkan yang lain merupakan makam-makam Sultan Cirebon serta kerabatnya.

Berdirinya komplek makam Gunung Sembung sangat berpengaruh untuk warga yang bermukim di sekitaran komplek. Keberkahan dan kesejahteraan diterima oleh warga. Hal ini terbukti dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang dirasakan oleh warga. Salah satu alternatif yang dilakukan oleh warga yakni dengan berjualan oleh-oleh dan cenderamata khas Cirebon. Kegiatan tersebut mampu menarik khalayak ramai khususnya pendatang dari luar Cirebon yang sedang berziarah ke makam Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati merupakan salah satu dari sembilan tokoh penyebar agama Islam atau masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Wali Sanga yang ada di pulau Jawa. Di samping menjadi pemimpin spiritual, sufi, mubalig dan da,i Sunan Gunung Jati merupakan raja (Sultan) pertama di Kesultanan Cirebon yang awal mulanya bernama Pakungwati. Syarif Hidayatullah putera Maulana Ishaq Syarif Abdillah merupakan nama asli dari Sunan Gunung jati. Ayah Sunan Gunung Jati adalah penguasa dari kota Ismiah, Arab Saudi. Sunan Gunung Jati hidup pada zaman Raden Patah Sultan Demak pertama, putra dari Nyi Ratu Rarasantang atau Syarifah Muda’im dengan Maulana Ishaq Syarif Abdillah.

Dikisahkan bahwa pangeran Cakrabuana menikahkan putrinya yaitu Nyi Ratu Pakungwati dengan Sunan Gunung Jati. Pada tahun 1479 Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaan atas negeri Caruban kepada menantunya (Syarif Hidayatullah) dengan gelar Sunan Gunung Jati. Dengan dinobatkannya Syarif Hidayatullah sebagai penguasa tertinggi Nagari Caruban, di istana atau Keraton Pakungwati menambah besar dan pesat nama Caruban beserta penyebaran agama Islam.

Ketika Syarif Hidayatullah mempunyai keinginan untuk dekat dengan makam gurunya yakni Syekh Dzatul Kahfi, maka beliau meminta izin kepada Pangeran Cakrabuana untuk tinggal bersama anaknya di Pertamanan Gunung Sembung. Tinggalnya Sunan Gunung Jati beserta anak beliau sekaligus mengajarakan agama Islam sebagai penerus Paguron Islam Gunung Jati. Langkah yang ditempuh oleh Sunan Gunung Jati berikutnya ingin memperluas wilayah penyebaran agama Islam di sekitar Cirebon, Talaga dan Rajagaluh. Akan tetapi beliau kembali lagi ke Gunung Sembung dengan tujuan menata agama Islam di Pasambangan, yakni menjadi guru Agama Islam di Paguron Pasambangan. Pada tahun 1568, Syarif Hidayatullah wafat pada usia 120 tahun.

Kegiatan ini selain bertujuan untuk mengimplementasikan  mata kuliah Pengantar Studi Islam, point utama yang bisa didapat ialah mahasiswa/i mampu merefleksikan diri terhadap sejarah pada masa lampau untuk bekal perjalanan pada zaman sekarang. Apalagi di era gempuran teknologi dan berkembangnya jejaring sosial, perlu adanya kolaborasi antara sejarah dan kemajuan IPTEK untuk mensosialisasikan, mengenalkan dan menanamkan sejarah bangsa sendiri agar dijadikan identitas tiap warga negara. Selain itu mahasiswa/i mampu menarik benang merah yang sesuai dengan tema dan mata kuliah yang sedang diampu untuk kebermanfaatan di masyarakat.

Referensi

Makam Gunung Sembung, Pesona Indonesia, Direktorat Tata Kelola Destinasi dan Pariwisata Berkelanjutan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. https://direktoripariwisata.id/unit/7889 (Diakses: 29 Desember 2023, pukul 03.00)