Reporter: Eva Lilis Solihatun | Editor: Masyhari
Kedawung – Unit Kegiatan Mahasiswa Sahabat Literai IAI Cirebon (UKM SLI) selenggarakan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Literasi Dasar (Diklat Litsar) bertempat di kampus IAI Cirebon, Sabtu (28/11/2021).
Dibuka oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, acara tersebut diikuti oleh sebanyak 40 peserta calon anggota UKM SLI yang terdiri dari mahasiswa semester I, III dan V lintas fakultas di IAI Cirebon.
Kegiatan diklat digelar untuk memberikan pembekalan dan pemahaman khususnya kepada para calon anggota UKM SLI terkait dengan literasi dan kepenulisan dasar, serta meningkatkan keterampilan menulis bagi seluruh anggota UKM. Demikian sebagaimana dikatakan oleh Yusuf Paisal, ketua panitia pelaksana kegiatan.
Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sebagai momentum untuk membangun keakraban dan soliditas antara pengurus dan anggota UKM SLI.
“Selain itu, kegiatan ini digelar dalam rangka memetakan potensi dan bakat yang dimiliki oleh para anggota SLI. Pasca kegiatan ini, akan ada rencana kegiatan susulan sebagai tindak lanjutnya, yaitu semacam diklat intensif sesuai dengan potensi dan minat para anggota,” sambung Yusuf.
Senada dengan itu, Ati Latifah, ketua UKM SLI dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam kesempatan diklat tersebut akan diberikan pengetahuan mengenai literasi dasar, dasar-dasar menulis, macam-macam tulisan, tips mudah menulis, dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan tersebut, Ati Latifah, menegaskan bahwa keberadaan UKM SLI diharapkan menjadi wadah untuk membuka jendela pemikiran dan wawasan bagi mahasiswa IAI Cirebon dalam berbagai bidang yang terkait dengan literasi.
Oleh karenanya, lanjut Ati Latifah, SLI tidak hanya mengadakan kegiatan diskusi dan kepenulisan, tapi juga podcast yang diunggah di Instagram dan YouTube, pelatihan public speaking, jurnalistik, dan lain sebagainya.
“Pengurus berharap, para anggota SLI bisa terlibat secara langsung dalam kegiatan tersebut, tidak hanya sebagai peserta, tapi juga sebagai tim pelaksana kegiatan inti,“ sambungnya.
Sementara itu, Drs. Moh. Sobri, M.M.Pd., Warek III dalam sambutannya berharap ke depan SLI bisa mengadakan kegiatan yang tidak hanya melibatkan anggota SLI saja, tapi juga mengajak mahasiswa selain anggota, agar kita sama-sama bisa berkembang dan maju.
“Semestinya SLI bisa mengadakan latihan membuat karya ilmiah, mulai dari artikel, makalah, hingga skripsi, dengan DEMA sebagai fasilitator, UKM SLI bisa berkoordinasi dengan Hima dan UKM lainnya, agar undangan kegiatan bisa sampai ke semua mahasiswa,” terangnya.
Sebelum sesi materi inti, kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan pengurus UKM SLI masa khidmat 2021-2022 dan perkenalan para peserta Diklat satu persatu, dipandu oleh Rahmat Hidayah, mahasiswa Prodi PBA sebagai moderator.
Kegiatan diklat literasi dasar kali ini menghadirkan dua orang narasumber, yaitu Ikfal Al-Fazri, pengurus PW IPNU Jawa Barat dan Masyhari, pembina UKM SLI.
Ikfal Al Fazri, narasumber pertama, memaparkan tentang literasi, sejarah dan urgensinya khususnya bagi seorang mahasiswa. Menurut Ikfal, literasi memiliki sejarah yang panjang dalam kehidupan umat manusia.
“Awal mula literasi sejak zaman Yunani Kuno. Yakni, ketika para tokoh Yunani berdebat mengenai asal muasal adanya bumi. Dalam tradisi Islam, literasi terinspirasi dari wahyu yang pertama kali diturunkan, yaitu surah al-Alaq, yang memuat “Iqra”, yang berarti bacalah. Artinya, manusia diperintahkan untuk membaca. Kita tidak boleh meninggalkan perintah berliterasi, karena hal tersebut amat sangat penting,” terangnya.
Lebih lanjut, Ikfal menjelaskan, bahwa kegiatan literasi terekam dalam sejarah para sahabat dan tabiin, misalnya dalam kodifikasi mushaf al-Qur’an dan hadis.
“Dalam konteks saat ini, khususnya di Indonesia ada pembukuan sejarah para wali dan sejarah kerajaan yang pernah ada di Indonesia, yang disebut sebagai naskah kuno dan babad. Di Cirebon, misalnya, dulu pernah ada Gotra Sawala, semacam festival literasi yang dihadiri oleh para penulis dari berbagai daerah untuk memperkenalkan karya mereka,” imbuhnya.
Misalnya saja, lanjut Ikfal, ada kitab Tatamba yang ditulis oleh ulama dan pihak kerajaan Pakungwati, yang berisi tentang tanaman-tanaman obat yang dapat dijadikan sebagai obat berbagai macam penyakit.
Dalam kesempatan tersebut, Ikfal juga memberikan motivasi kepada para peserta diklat untuk meningkatkan semangat berliterasi dan pendidikan, mengingat di Cirebon ada masalah yang cukup serius terkait minat bersekolah.
“Berdasarkan data BPS terbaru, sebanyak 60% dari 2,2 Juta warga Cirebon, hanya berpendidikan hingga tingkat SD dan SMP. Sisanya, 40% lulusan SMA sederajat, sarjana, doktor dan professor,” lanjutnya.
Hal tersebut, sambung Ikfal, karena kebanyakan menilai bahwa bekerja dan menghasilkan uang lebih baik dibandingkan dengan bersekolah yang malah mengeluarkan uang.
“Ini sangatlah keliru, karena ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan untuk menghasilkan SDM yang mampu berdaya saing dan dapat memahami hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitar, sehingga tidak mudah dibodohi oleh orang lain. Dengan berliterasi, kita bisa menciptakan SDM yang memiliki keterampilan, inovatif, kreatif dan dapat berpikir kritis. Dengan menulis kita bisa menjadi seorang writerpreneur, seorang wirausahawan dalam bidang literasi dan kepenulisan,” tegasnya.
Sementara itu, Masyhari, selaku narasumber kedua menyampaikan materi tentang sejarah singkat SLI dan Literasi Tulis.
“Asal-usul adanya UKM SLI adalah semangat untuk mengadakan kegiatan literasi yang intens di kampus. Sebelumnya, setiap kelas yang saya masuki di kampus, saya selalu ajak para mahasiswa untuk menulis resume, artikel, ulasan buku, dan lain-lain,” terangnya.
Menurut Masyhari, sejarah SLI tidak dapat dilepaskan dari penulisan berita pementasan perdana Teater Geni dengan lakon Tak Seperti Sepasang Merpati yang digelar di gedung Nyimas Rara Santang Bima Kota Cirebon. Berita hasil reportase yang dimuat di web kampus dan Cirebonplus tersebut ditulis oleh Sahabat Tuti Alawiyah, mahasiswa Prodi PGMI dan kader PK PMII STAI Cirebon kala itu.
“Usai pementasan, saya minta Tuti Alawiyah dan Gita Handayani untuk menulis ulasan tentang pementasan tersebut. Alhasil, tulisan Tuti saya edit dan muat di web kampus, dan selanjutnya dimuat di Cirebonplus setelah dilakukan penyesuaikan,” lanjutnya.
Terkait dengan literasi tulis, Masyhari menuturkan bahwa tulisan adalah produk literasi dan membaca adalah prosesnya.
“Bacaan tidak harus berasal dari buku, tapi bisa pula dari lingkungan kehidupan kita sehari-hari,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Masyhari menegaskan bahwa menulis sangat urgen bagi setiap orang, khususnya bagi mahasiswa. Terkait hal ini, ia mengemukakan beberapa argumentasi. Yang pertama yaitu karena perintah agama. Menulis, kata dia, adalah sedekah jariyah dan nyawa kedua.
“Selain itu, kegiatan menulis merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan instrumen perubahan sosial bagi seorang mahasiswa yang merupakan agen perubahan. Dan berikutnya, dengan menulis kita akan mendapatkan tambahan penghasilan,” kata dia.
Selanjutnya, Masyhari menjelaskan aneka jenis tulisan yang terdiri dari ilmiah dan non ilmiah, fiksi dan non fiksi, serta sastra dan non sastra. Selain itu, ia juga memaparkan tips mudah menulis.
“Yang pertama, tulislah apa yang kita sukai. Kedua, terapkan ATM, yaitu amati, tiru dan modifikasi. Ketiga, tulislah apa yang kita ketahui atau menjadi bidang kita. Keempat, jam terbang membaca dan menulis harus terus ditingkatkan karena hal tersebut menentukan kualitas tulisan kita. Selanjutnya, yang kelima kita harus fokus, entah itu menulis paragraf, maupun menulis buku. Dan yang keenam adalah hindari plagiat dengan parafrasa,” jelasnya.
Usai pemaparan materi dilanjutkan dengan sesi menulis bersama. Pada sesi tersebut, para peserta diharuskan menulis beberapa paragaf secara bebas, dan mengumpulkan hasil karya mereka ke panitia.[]
Recent Comments