Oleh: Ajat Sudrajat, Kaprodi Manajemen Pendidikan Islam IAI Cirebon
Peringatan lahirnya Kanjeng Nabi Muhammad Saw sedang marak dilakukan di setiap masjid dan mushala. Baik yang difasilitasi oleh DKM, ormas, swasta maupun pemerintah.
Beberapa di antaranya saya juga pernah diundang, salah satunya bahkan saya dibekali berkat saat mau pulang.
Saat membuka berkat tersebut, sedikit saya bertanya dalam hati, “Bagaimana cara saya mengenal Kanjeng Nabi Muhammad Saw?”
Berikut saya coba paparkan hasil perenungan itu. Pertama,
Mengenal Kanjeng Nabi Muhammad Saw bisa dilakukan dengan mendekati Al-Qur’an. Al-Qur’an banyak mengandung ajaran kehidupan bagi umat manusia. Tentu ini berlaku bagi mereka yang memiliki kapasitas untuk menggalinya, yaitu mereka yang memiliki kapasitas keilmuan, baik nahwu, sharaf, tafsir, dsb.
Kedua, untuk mengenal Kanjeng Nabi Muhammad Saw, kita harus terus mencari ilmu, karena tidak ada sebuah peradaban tanpa adanya ilmu.
Kanjeng Nabi Muhammad Saw adalah seorang Rasul yang telah menciptakan sebuah peradaban atas jerih payahnya. Maka, kita juga harus dapat meneladani apa yang telah dicontohkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, tersebut.
Ketiga, mengenal Kanjeng Nabi Muhammad Saw dengan memperbaiki akhlak kita. Sekalipun memiliki ilmu yang tinggi, kita harus ingat bahwa ilmu kalah dengan akhlak. Karena ilmu itu dilakukan dengan perilaku yang hadir di tengah kehidupan kita, maka yang memilikinya harus selaras dengan akhlak.
Dahulu kita sering mendengar nasehat orang tua, bahwa berilmu harus seperti kiyai yaitu memiliki tuah dan tulah. Memberikan dan mengajarkan agama bukan dengan kekerasan, melainkan dengan petuah dan akhlak.
Keempat, mengenal Kanjeng Nabi Muhammad Saw, dengan membaca, menyucikan, dan mengajarkan. Kanjeng Nabi itu membacakan, menyucikan, dan mengajarkan wahyu Allah melalui Al-Qur’an. Beliau menyucikan risalah untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas, mengajarkan hidup dengan baik dan benar dengan sesama, dengan alam, dengan Gusti Allah Swt, dan tidak iri, dengki dan zalim kepada teman dan saudara.
Zhalamnā anfusanā waillam taghfirlanā watarhamnā lanakunanna minal khāsiriin..
Untuk terhindar dari sifat zalim, kita harus membaca istigfar secara zahir dan mengampuni secara batin. Selanjutnya dengan menebar rahmat atau kebaikan kepada sesama manusia dan seluruh alam, serta berbaik-baikan dengan sesama manusia, tidak merusak alam, dan tidak mengotori lingkungan.
Kita tidak pernah berterima kasih kepada alam, terima kasih kepada matahari, dan terima kasih kepada air dengan menggunakannya dengan baik, dengan doa.
Laqad kāna lakum fii rasūlillāhi uswatun hasanah. Kanjeng Nabi adalah seseorang yang memiliki karakter baik. Contohnya adalah Kanjeng Nabi mencintai dan menyantuni anak yatim.
Kanjeng Nabi adalah seorang manusia yatim sejak kecil. Perjuangan beliau untuk hidup dan mampu menjadi penerang umatnya yaitu dengan lahaula walaakuwwata illa billahi aliyul adzim.
Kelima, mengenal Kanjeng Nabi Muhammad Saw
dengan meningkatkan ketundukan kita kepada Allah Swt. Apakah dengan peringatan mampu untuk semakin meningkatkan rasa tunduk dan syukur kita kepada Allah? Tidak hanya menjadikannya sebatas seremonial ikut-ikutan orang lain. Ini yang kadang sering kita lupakan.
Peringatan maulid Kanjeng Nabi harus bisa membangkitkan keakuan yang selama ini kita miliki kepada Allah. Bersihkan dengan salat, puasa, atau membaca Al-Qur’an, dsb.
Hubungan makhluk dengan Khalik adalah akhlak. Maka, jika ia menyadari keberadaan Khalik, ia harus berakhlak. Kita dilatih oleh risalah Kanjeng Nabi Muhammad Saw untuk merasa ada karena Rasulullah, dan merasa tidak ada karena keberadaan Allah Swt. Wallahu a’lam.
Recent Comments