Oleh : Tia Nur Istianah, M.Pd

Penyusunan skripsi pasti akan dilalui oleh seluruh mahasiswa terutama yang telah menyelesaikan masa studinya sampai pada semester akhir. Mereka (mahasiswa) yang menjalankan penyusunan skripsi memiliki pilihan lulus cepat atau tidak, dan itu tergantung dari kesiapan mereka sebelum, selama, dan sesudah menyusun skripsi. Alih-alih ingin lulus cepat atau tepat waktu, banyak mahasiswa hanya bermodalkan nekat dan juga judul yang akan diajukan sebagai bahan skripsi, kemudian berbondong-bondong menghadap dosen pembimbing untuk meminta accord atau persetujuan. Hal ini jika mahasiswa salah dalam merencanakan dan bertindak, justru akan membuat mereka kesulitan dalam mengerjakan, menurunnya mental, dan berimbas pada keterlambatan kelulusan. Namun semua kembali pada masing-masing mahasiswa karena banyak faktor baik secara eksternal maupun internal yang mendukung mereka untuk dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan hasil baik dan lulus tepat waktu.

Apakah baiknya sebuah skripsi tergantung dari jenis penilitian yang dilakukan? Tidak. Banyak persiapan yang harus dilakukan dan dilaksanakan secara sistematis guna mendapatkan hasil skripsi yang maksimal. Selain itu, penting bagi mahasiswa untuk mempertimbangkan hal yang perlu dan tidak perlu dilakukan selama penyusunan skripsi. Berikut do and don’t yang harus diperhatikan oleh mahasiswa jika ingin skripsi yang dikerjakan diterima oleh dosen pembimbing, lancar dalam proses penyusunannya, dan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Do: Banyak Membaca Sumber Bacaan Terkait

Dalam menulis skripsi baiknya mahasiswa memulai dengan banyak membaca buku, jurnal, maupun artikel ilmiah lainnya yang menunjang penyusunan skripsi. Hal ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bagi mahasiswa sebelum memulai menulis skripsi. Tidak sekedar ketik dan mengarang ide yang disampaikan, mahasiswa harus tahu betul apa yang nantinya akan mereka tulis dan kemudian teliti sehingga tulisan mereka berbobot dan mengandung pertanggung jawaban.

Membaca berbagai sumber bacaan terkait bidang yang akan diteliti, memudahkan mahasiswa untuk menentukan topik yang akan dijadikan bahan penelitian skripsi. Topik yang dipilih haruslah memiliki teori pendukung yang diperoleh dari penelitian sebelumnya atau berdasarkan konsep para ahli, bukan dari personal interest mahasiswa tersebut. Oleh karenanya, dalam hal ini mahasiswa diwajibkan untuk banyak membaca sebelum menulis.

Don’t: Memulai Dengan Menulis

Memulai penyusunan skripsi dengan menulis, hal ini merupakan kesalahan umum yang banyak dilakukan oleh mahasiswa. Penyusunan skripsi memang didalam prosesnya merupakan kegiatan menulis, namun bukan berarti bahwa penyusunannya harus dimulai dengan menulis. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, hal yang perlu dilakukan oleh mahasiswa sebelum memulai menulis skripsi adalah membaca. Karena kaitannya, mahasiswa mempunyai dan bisa menulis suatu ide atau gagasan dari apa yang telah mereka baca. Mereka yang memulai penyusunan skripsi dengan menulis, lebih banyak memilih topik berdasarkan apa yang mereka sukai dengan tidak mempertimbangkan adanya senjang penelitian yang meliputi teori dan fenomena. Padahal itu yang harus dihindari oleh mahasiswa karena dapat menimbulkan subjektifitas hasil penelitian, dan dinilai kurang ilmiah.

Do: Gunakan Jenis Penelitian Yang Dipahami

Penelitian merupakan inti dari penulisan karya ilmiah yang salah satunya adalah skripsi. Terdapat beberapa jenis penelitian yang bisa digunakan dalam penulisan skripsi. Namun, perlu diperhatikan bahwa penentuan jenis penelitian harus berdasarkan pemahaman mahasiswa dan juga tujuan dari penelitian tersebut. Sebagai contoh, jika suatu penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan suatu fenomena maka jenis penelitiannya adalah kualitatif. Selain itu, mahasiswa tersebut juga harus paham betul alur pelaksanaan metode penelitian yang digunakan karena tiap jenis penelitian memiliki karakteristik, tujuan, dan cara pemerolehan data yang berbeda.

Don’t: Pengumpulan Data Dengan Desain Penelitian Lemah

Lemahnya desain penelitian akan berdampak pada beberapa poin penting seperti kesalahan dalam menentukan subjek penelitian, pemerolehan data penelitian, pengukuran validitas alat ukur, dan berujung pada tujuan penelitian yang tidak tercapai. Setelah menentukan jenis penelitian yang digunakan, perlu bagi mahasiswa untuk mendesain penelitian tersebut dengan memperhatikan rancangan penelitian, teknik dan proses pengumpulan datanya. Jika suatu desain penelitian lemah dan tetap dilakukan, maka hasil dari penelitian tersebut tidaklah valid karena kurangnya kevalidan alat ukur dan peneliti, dalam hal ini mahasiswa, dianggap gagal karena tidak mematuhi metode penelitian secara konsekuen.

Do: Mengenal Siapa Dosen Pembimbing Skripsimu

Sebagian instansi pendidikan telah mengatur siapa dosen yang akan membimbing beserta mahasiswa bimbingannya, ada juga yang pemilihan dosen pembimbing diserahkan kepada mahasiswa untuk bebas memilih dengan siapa dia akan dibimbing. Sebagai mahasiswa di bawah bimbingan dosen tertentu, perlu untuk mencari tahu siapa pembimbing dan latar belakangnya. Hal ini dapat membantu mahasiswa agar mempunyai gambaran hal-hal yang menjadi concern pembimbing tersebut. Apalagi bagi mahasiswa yang diberikan kebebasan untuk memilih pembimbing, tentunya akan sangat berguna dalam menentukan pembimbing yang satu frekuensi dengan bidang yang mahasiswa tersebut teliti dan jenis penelitian yang digunakan. Misalnya, mahasiswa tersebut akan meneliti tentang kebahasaan akan lebih baik memilih pembimbing dengan bidang ahli yang serumpun seperti dosen linguistik atau sastra. Hal ini akan menguntungkan mahasiswa dalam menyusun skripsi dengan baik dan benar dengan arahan dari ahlinya.

Don’t: Meminta Mengganti Dosen Pembimbing Ditengah Penyusunan Skripsi

Bukan hal yang tidak mungkin jika terjadi penggantian dosen pembimbing selama penyusunan skripsi. Ini dikarenakan beberapa hal, seperti ketidak cocokan keinginan dosen untuk konten skripsi yang diajukan, dosen pembimbing berhalangan, atau ada masalah dari mahasiswa tersebut dengan dosen yang bersangkutan. Alih-alih mencari solusi atau memecahkan masalah, kerap kali mahasiswa lebih memilih untuk mengganti dosen pembimbing dengan berbagai macam alasan. Sebetulnya hal ini justru menghambat progress atau kemajuan mahasiswa dalam penyusunan skripsi karena dengan mengganti dosen pembimbing kemungkinan besar akan merubah topik skripsi bahkan isinya. Hal ini dikarenakan kemungkinan adanya perbedaan pandangan dengan pembimbing sebelumnya. Oleh karena itu, sangat disarankan sekali bagi mahasiswa untuk tidak meminta pengganti pembimbing terutama ditengah penyusunan. Selain menghambat kemajuan penyusunan skripsi, hal ini juga dianggap tidak etis dan tidak sopan.

Do: Lebih Banyak Memotivasi Diri Sendiri

Skripsi sering dianggap menjadi sebuah “beban” bagi sebagian besar mahasiswa yang melihat kesulitan dalam pengerjaannya. Kemudian timbul ketakutan dari berbagai sisi, seperti takut salah, takut tidak selesai, takut bimbingan dengan dosen, dan takut tidak bisa lulus cepat. Rasa takut inilah yang membuat banyak dari mahasiswa jalan di tempat atau tidak adanya kemajuan dalam pengerjaan skripsi. Peran motivasi sangatlah penting dalam situasi seperti ini. Motivasi dari dalam diri sendiri maupun dari orang lain dinilai sangat membantu mendongkrak mood dan semangat saat pengerjaan skripsi. Namun ketimbang mengharap motivasi dari orang lain, faktor motivasi yang sangat berpengaruh adalah motivasi dari diri sendiri. Buatlah sebuah tujuan atau alasan yang jelas dan kuat mengapa harus bisa menyelesaikan skripsi dengan baik, dan jadikan alasan itu sebagai motivasi. Motivasi ini pastinya akan menjadi cambuk, dan juga menjadikan mental mahasiswa lebih stabil bahkan cenderung meningkatkan percaya diri. Karena pada dasarnya, bisa atau tidaknya mahasiswa menyusun skripsi tergantung pada individu masing-masing.

Don’t: Menyia-nyiakan Waktu dan Kesempatan

Kesalahan umum satu ini banyak dilakukan oleh mahasiswa. Ketika mahasiswa memiliki waktu luang disela-sela penyusunan skripsi, atau waktu tunggu revisi dari dosen pembimbing, mereka gunakan untuk bersantai lepas sejenak dari rutinitas skripsi. Kenapa? Jawaban mereka adalah butuh waktu santai untuk menghilangkan penat. Hal ini biasanya terjadi selama rentang waktu yang cukup lama untuk menunggu hasil pengecekan skripsi oleh pembimbing. Padahal, mengerjakan skripsi harus bersaing dengan waktu, semakin rajin menulis atau mengerjakan skripsi maka akan semakin sedikit waktu yang mahasiswa tempuh untuk menyelesaikan skripsi tersebut. Jadi intinya bahwa jangan menyia-nyiakan waktu luang selama pengerjaan skripsi, alangkah lebih bermanfaat jika waktu luang yang ada digunakan untuk membuat kerangka menulis dari kelanjutan skripsi yang sedang di baca oleh dosen pembimbing. Dan jangan sekali-kali menunda revisi ke dosen pembimbing.

 

Itulah do and don’t yang harus diperhatikan oleh mahasiswa pejuang skripsi yang ingin segera menyelesaikan skripsi dengan baik dan lulus lebih cepat. Perhatikan dan terapkan apa yang boleh dilakukan (do), dan hindari yang tidak boleh dilakukan (don’t). Pastikan bahwa segala tindakan harus direncanakan dengan baik dan maksimal, sehingga menghasilkan hasil yang memuaskan. Selamat berjuang dan sukses!