ACHMAD SYAEFUR ROKHIM, M.Pd

 Abstrak

Anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. Anak memiliki peran strategis, ia mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. Oleh karena itu agar anak kelak dapat memikul tanggung jawab tersebut, maka ia harus mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial. Masalah yang sering kita temui pada zaman yang sering disebut sebagai zaman milenial ini salah satunya adalah sikap dan perilaku anak yang cenderung nampak  jauh dari nilai-nilai agama Islam. Masalah yang demikian pun ditemukan di Desa Muara, di Desa ini sebagian besar anak  berperilaku tidak sopan terhadap orang lain, menyukai dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, bertengkar dan berkelahi dengan teman, tidak giat melakukan hal-hal keagamaan. Dari gambaran kondisi tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian, dengan tujuan untuk mengetahui pola asuh orng tua dan efektivitasnya dalam menanaman nilai-nilai Agama Islam pada anak.

 

Pendahuluan

Lingkungan kelurga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku anak, karena keluarga adalah merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama dalam masyarakat, karena dalam keluargalah manusia dilahirkan dan berkembang menjadi dewasa. Bentuk dan isi serta cara-cara pendidikan di dalam keluarga akan selalu mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya watak, budi, pekerti dan tiap-tiap kepribadian manusia.(Fuad, 2010:57) Keluarga juga merupakan awal bersosialisasi anak sebelum anak tahu apa yang ada di lingkungannya. Dari keluarga anak akan belajar apa yang harus dilakukannya dan juga akan meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarganya.

Adapun menurut Baumrind, dalam buku Ricard M. Lerner, Human Development a life span perspectif  mengatakan bahwa keluarga hanya satu institusi dalam konteks sosial. Ketika konteks berubah maka akan berdampak pula pada keluarga dan juga pada hubungan antar orang tua dan anak. Dengan demikian perlu diperhatikan bagaimana fungsi keluarga dalam konteks sosial sebagaimana adanya saat ini.(Ricard M, 1983:282) Oleh karenanya orang tua harus mampu memberikan pola asuh yang tepat kepada anak-anaknya, untuk sebuah keberhasilan dalam mananamkan nilai-nilai agama Islam terhadap anak.

Menurut Hetherington dan Porke dikutip oleh Sanjiwani, pola asuh merupakan bagaimana cara orang tua berinteraksi dengan anak secara total meliputi proses pemeliharaan, perlindungan dan pengajaran bagi anak. (Ni Luh Putu, 2014) Adapun Nilai-nilai agama Islam adalah memuat aturan-aturan Allah yang antara lain meliputi aturan yang mengatur tentan hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam secara keseluruhan. (Toto Suryana, 1996:148-150)

Dari uraian tentang pola asuh dan nilai-nilai agama Islam serta fenomena sikap dan perilaku anak yang yang jauh dari nilai-nilai agama Islam, maka peneliti ingin mengetahui tentang “bagaimanakah peranan pola asuh orang tua dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam pada anak?” hal tersebut, melatar belakangi peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul : Peranan Pola Asuh Orang Tua Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Agama Islam Pada Anak Di Desa Muara Cirebon.

 

Metodologi

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif digunakan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. (Lexi J, 2002:3)

Penelitian ini merupkan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditunjukkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran seseorang secara individua atau kelompok.(Nana Syaodih, 2011:60)

Penelitian kualitatif memiliki sifat induktif, yaitu mengembangkan konsep berdasarkan data yang ada, mengikuti desain penelitan yang fleksibel sesuai dengan konteksnya.(Suharsimi, 2010:14) Sedangkan definisi dari fenomenologis adalah pandangan berfikir yang menekankan pada fokus ke pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi dunia.(Lexi J, 2002:16)

Dalam buku Researh Desaign dijelaskan bahwa :

 Phenomenological research in wich the researcher identifies the “essence” of human experiences concerning a phenomenon, as described by partisipants in a study. Understanding the “lived experiences” marks phenomenology as a philosopy as well as a method, and the procedure involves studying a small number of subjects through extensive and prolonged engagement to develop patterns and relationships or meaning.(John W, 2003:15)

Dapat dipahami bahwa penedekatan fenomenologi merupakan strategi penelitian di mana peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang fenomena tertentu. Kemudian memahami pengalaman hidup manusia menjadikan filsafat fenomenologi sebagai suatu metode penelitian yang prosedurnya mengharuskan peneliti untuk mengkaji beberapa subyek dengan terlibat langsung dan relatif lama di dalamnya untuk mengembangkan pola-pola dan relasi-relasi yang bermakna.(John W, 2003:20-21)

Dengan pendekatan fenomenologis ini, dapat diketahui hasil nyata yang sebenarnya dari data yang diperoleh berdasarkan pengamatan dan wawancara secara langsung tentang bagaimana pola asuh dalam menanamkan nilai-nilaiagama islam yang kemudian dikaitkan dengan sikap dan perilaku anak di Desa Muara Kecamatan Suranenggala Kabupaten Cirebon.

Hasil dan Pembahasan

Pola Asuh

Mengenai pengertian tentang pola asuh, ada banyak para ahli yang menguraikan pendapatnya dalam menjelaskan pola asuh. Diantaranya adalah;

Menurut Gunarsih Singgih dalam bukunya Psikologi Remaja, pola asuh orang tua adalah sikap dan cara orang tua dalam mempersiapkan anggota keluarga yang lebih muda termasuk anak, supaya mampu mengambil keputusan sendiri dan bertindak sendiri sehingga mengalami perubahan dari keadaan bergantung kepada orang tua menjadi mandiri dan bertanggung jawab sendiri.(Singgih, 2007:109)

Menurut Kohn yang dikutip Chabib Toha, bahwa pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya. Sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara orang tua memberi peraturan pada anak, cara memberikan hadiah dan hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian dan tanggapan terhadap keinginan anak.(Chabib, 1996:109)

Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan kepada anak dan bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dan bisa memberikan dampak posotif maupun negatif. Orang tua memiliki cara dan pola tersendiri dalam mengasuh dan membimbing anak, cara dan pola tersebut tentu akan berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Pola asuh orang tua merupakan gambaran sikap dan perilaku orang tua dan anak dalam berinteraksi,berkomunikasi selama melakukan kegiatan pengasuhan. (Syaiful, 2014:51-52)

Dalam kegiatan memberikan pengasuhan ini, orang tua akan memberikan perhatian, peraturan, disiplin, hadiah dan hukuman, serta tanggapan terhadap keinginan anaknya. Sikap, perilaku dan kebiasaan orang tua selalu dilihat, dinilai dan ditiru anaknya yang kemuadian semua itu secara sadar ataupun tidak sadar akan diresapi, kemudian menjadi kebiasaan bagi anak-anaknya. (Syaiful, 2014:51)

Menurut Baumrind dalam buku Ricard M. Lerner, Human Development a life span perspectif, ia membagi tipe umum pola asuh menjadi tiga, yaitu :

1.Authoritarian parent.

This type of parent tries to shape, control, and evaluate the behavior and attitudes of the child in accordance with a set, typically absolute standard of behavior. This parrents stresses the value of obedience to his or her authority. He or she favors punitive, forceful measures to curb “self-will” whenever the child’s behaviors or beliefs conflict with what the parent thinks is correct. (Ricard M, 1983:282)

 Orang tua yang otoriter, tipe orang tua ini mencoba untuk membentuk, mengendalikan, dan mengevaluasi perilaku dan sikap anak sesuai dengan standar perilaku yang mutlak. Orangtua tipe ini menekankan nilai ketaatan pada otoritasnya. Ia menyukai hukuman, tindakan tegas untuk mengekang keinginan diri setiap kali perilaku anak bertentangan dengan keyakinan orang tua yang dianggap benar.

2. Permissive parent.

This type of parent attempts to behave toward the child’s behaviors, desires, and impulses in a nonpunishing, accepting, and affirming manner. The parent consults with the child about decisions regarding family “policy” and offers the child rationales for family rules. (Ricard M, 1983:282)

Tipe orang tua ini berusaha untuk berperilaku mengimbangi terhadap keinginan anak-anak, ia tidak menghukum tetapi menerima, dan meneguhkan. Orang tua berkonsultasi dengan anak tentang keputusan mengenai kebijakan keluarga dan menawarkan persetujuan anak untuk aturan keluarga. 

3. Authoritative Parent

The type of parent tries to direct his ore her child’s activities through the use of a rational issue oriented style. Through explanation to and reasoning with the child, the parent attempts to induce the desired behaviore in the child. That is, trhough induction direction through reasoning and axplanation. (Ricard M, 1983:282)

Tipe orang tua ini mencoba mengarahkan perilaku anaknya melalui penggunaan gaya yang berorientasi pada hal yang rasional. Melalui penjelasan dan penalaran anak, orang tua berusaha untuk menginduksi perilaku yang diinginkan terhadap anak.orang tua yang berwibawa mencoba mengendalikan anak, oleh karena itu, orang tua tipe ini berusaha berbagi dengan anak mengenai alasan di balik suatu kebijakan.

Syamsu Yusuf dalam bukunya Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, menjelaskan tentang gambaran hasil penelitian Boumrind mengenai pengaruh pola asuh terhadap perilaku anak :

1.Authoritarian parent

Sikap dan perilaku orang tua :

  1. Sikap “Acceptance” rendah, namun kontrol tinggi
  2. Suka menghukum secara fisik
  3. Bersikap mengomando (mengharuskan/memerintahkan anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi
  4. Bersikap kaku (keras)
  5. Cenderung emisional dan bersikap menolak

Profil perilaku anak :

  1. Mudah tersinggung
  2. Penakut
  3. Pemurung, tidak bahagia
  4. Mudah terpengaruh
  5. Mudah stres
  6. Tidak mempunyai arah masa depan yang jelas
  7. Tidak bersahabat (Syamsu, 2008:51)

2. Permissive Parent.

Sikap atau perilaku orang tua :

  1. Sikap “acceptance”nya tinggi namun kontrol rendah
  2. Meberikan kebebasan kepada anak untuk menyatakan dorongan/keinginannya

Profil perilaku anak :

  1. Bersikap implusif dan agresif
  2. Suka memberontak
  3. Kurang memiliki rasa percaya diri dan pengendalian diri
  4. Suka mendominasi
  5. Tidak jelas arah hidupnya
  6. Prestasinya rendah (Syamsu, 2008:51)

3.Authoritative Parent.

Sikap dan perilaku orang tua :

  1. Sikap “acceptance” dan kontrol sama-sama tinggi
  2. Bersikap resposif terhadap kebutuhan anak
  3. Mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan
  4. Memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan baik dan buruk

Profil perilaku anak :

  1. Bersikap bersahabat
  2. Memilki rasa percaya diri
  3. Mampu mengendalikan diri
  4. Bersikap sopan
  5. Mau bekerja sama
  6. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
  7. Mempunyai arah/tujuan hidup yang jelas
  8. Berorientasi terhadap prestasi (Syamsu, 2008:51)

 

Nilai-nilai Agama Islam

Menurut Darajat, nilai aadalah suatu perangkat keyakinan ataupun perasaan yang diyakini sebagaia suatu identitas yang memberikan corak yang khusus kepada pola pemikiran, perasaan, keterikatan, maupun perilaku. (Darajat, 1984:260)

Nilai bukan saja dijadikan sebagai rujukan untuk bersikap dan berbuat dalam masyarakat, akan tetapi dijadikan pula sebagai ukuran benar tidaknya suatu fenomena perbuatan dalam masyarakat itu sendiri. Apabila ada suatu fenomena sosial yang bertentangan dengan sistem nilai yang diatut oleh masyarakat, maka perbuatan tersebut dinyatakan berentangan dengan sistem nilai yang dianut oleh masyarakat, dan akan mendapatkan penolakan dari masyarakat tersebut. (Wibawati,2016)

Aspek nilai ajaran Islam, pada intinya dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : nilai-nilai akidah, nilai-nilai ibadah, dan nilai-nilai akhlak. Nilai-nilai ibadah mengajarkan manusia untuk percaya akan adanya Allah SWT sebagai pencipta alam semesta, yang senantiasa akan mengawasi dan memeprhitungkan segala perbuatan manusia di dunia. Nilai-nilai ibadah mengajarkan manusia agar dalam setiap perbuatannya senantiasa dilandasi hati yang ikhlas guna mendapatkan ridlo Allah, pengamalan konsep nilai-nilai ibadah akan melahirkan manusia-manusia yanga adil, jujur dan suka membantu sesamanya. Selanjutnya nilai-nilai akhlak, mengajarkan manusia untuk bersikap dan berperilaku yang baik sesuai norma atau adab yang baik dan benar, sehingga akan membawa kepada kehidupan manusia yang tentram, damai, humoris dan seimbang. (Wibawati,2016)

Bedasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan tiga tipe pola asuh orang tua di Desa Muara, yaitu : Yaitu ;

Authotarian, pola asuh ini dapat dilihat dari sikap dan perilakunya yang “acceptance” rendah namun kontrol tinggi, keras atau kaku dan merasa paling benar, mudah marah, dan menghukum. Hal ini sesuai dengan observasi dan wawancara hasil wawancara dengan Ibu Siti, pada hari Senin, 07 Januari 2019. Pukul 08.30-09.45, saat ia menunggu anaknya di sekolah :

Saya tuh pak, jujur sering memukul anak saya kalau dia nggak nurut dan susah diatur,nggak mau ngaji, nggak mau sekolah. kadang juga memukul kepala,  saya juga nggak tahu kalau melihat dia begitu tuh langsung emosi dan reflek pengen memukul dia biar cepet nurut. Kadang saya nggak ngasih dia uang jajan. ”(Siti, 2019)

Dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam pada Fito –anaknya- ia cenderung memaksa dan kasar, hal ini sesuai dengan hasil observasi dan wawancara pada tanggal  07 Januari 2019.

“Belajar agama ya penting pak, makane kita baka ning Fito kah tak paksa ngaji ning tajug mbari bisa ngaji, aja kaya won tuane, tapi bocahe angel pisan baka ora disewoti dikit, digebug dikit ora gelem mangkat.(Belajar agama ya penting pak, makanya saya suka memaksa Fito untuk mengajai ke Musholla biar bisa ngaji nggak seperti orang tuanya, tapi anaknya susah sekali kalau nggak dimarahin terlebih dahulu, ngak dipukul dulu nggak mau brangkat).”(Siti, 2019)

Dari uraian Siti –Ibu Fito – dapat dipahami bahwa ia hanya menyuruh dan menyuruh tanpa mau bersikap lembut dan menanyakan alasan kenapa Fito cenderung malas kalau disuruh mengaji, sehingga Fito merasa terbebani dan tertekan iapun tidak akan melaksanakan kegiatan mengaji kalau ia tidak dimarahi terlebih dahulu. Dalam keseharianya pun Fito cenderung berperilaku agresif dan tidak sopan dengan yang lainnya, seperti misalnya menyebutkan nama binatang dan menyerang teman ketika ia sedang marah.

Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi dan wawancara dengan Musfiroh teman Fito pada tanggal 07 Januari 2019 :

“Fito galak banget, kalau marah suka menyerang siapa saja terus ngomongnya kasar, ya monyet lah, anjing lah, semua keluar dari mulutnya.”(Musfiroh, 2019) 

Authoritative, pola asuh ini dapat dilihat dari sikap dan perilkunya yang “acceptance” dan kontrol sama-sama tingggi, reponsif terhadap kebutuhan anak, mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan, memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan baik dan buruk. Uraian ini sesuai dengan hasil penelitian wawancara dan observasi dengan Sri, – Ibu Mutia -, ia mengungkapkan :

“Saya sering ngobrol-ngobrol dengan anak untuk ngasih tahu mereka tentang sikap yang baik dan nggak baik. Semisal ada temennya yang berantem atau saling menjelekkan saya minta ke meraka untuk tidak meniru. Ya walaupun anak-anak di sini biasa begitu tapi kalau nggak dikasih tahu kan nanti jadi kebiasaan.”(Sri,2019)

Sikap oautoritative yang digunakan Sri dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam pada Mutia, membuat Mutia mampu memahami dengan baik atauran-aturan agamanya. Ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, bahkan iapun memiliki kesadaraan dalam dirinya untuk berusaha menjalankan aturan-aturan tersebut tanpa harus disuruh oleh oleh orang tuanya, seperti mislanya sholat dan mengaji.

“Menanamkan nilai-nilai agama Islam pada anak itu penting, saya berusaha mengajari Mutia untuk sholat, walaupun belum bisa lima waktu. Alhamdulillah dia ngerti, kalau sholat dhuhur sama maghrib nggak disuruh juga dikerjain.”(Sri, 2019)

Permissive, pola asuh ini dapat dilihat dari sikap dan perilakunya yang rendah dalam memberikan pengawasan dan masa bodoh terhadap anaknya. Dalam hal ini peneliti menggambarkan tipe pola asuh ini dengan Mistani, Mistani tidak peduli dengan apapun yang dilakukan anaknya –Sholek-, ia merasa bahwa anaknya harus bisa menjaga dirinya sendiri tanpa bantuan orang tua. Orang tua tipe ini tidak pernah tau apa yang dilakukan anaknya di luar, dengan siapa anaknya bergaul dan seperti apa perilakunya mereka tidak mau tau. ia juga tidak berusaha memberikan pengertian tentang nilai-nilai agama Islam kepada anaknya dengan baik, mau ngaji atau tidak ia tidak mau tahu. Hal ini sesuai dengan hasil observasi dan wawancara pada  tanggal  09 Januari 20019 :

Saya nggak tau sholek di luar rumah seperti apa, tapi kayaknya ya sama kaya anak-anak lainnya, masa iya saya harus ngikutin dia bermain. Lagian sholek anaknya susah diatur, disuruh sekolah kadang mau kadang nggak, apalagi disuruh ngaji pasti nggak mau jadi ya sudah biarin aja.”(Mistani, 2019)

Dari ungkapan Mistani – Ibu Sholek – dapat dipahami bahwa ia merupaka sosok ibu yang cenderung tidak mau memikirkan bagaimana perilaku anaknya di luar, jadi ia lebih memilih membebaskan anaknya untuk melakukan aktifitas apapun tanpa melakukan kontrol termasuk membiarkan anaknya tidak memahami aturan-aturan agamanya dengan baik.

Karena pola asuh yang demikian, dalam kesehariannya sholek cenderung bersikap tidak sopan dan  berperilaku agresif. Sesuai dengan hasil observasi terhadap Sholek, peneliti menemukan bahwa Sholek anaknya tidak mau diam dan berperilaku tidak wajar seperti kebanyakan anak-anak seusianya.

Menurut teman-temannya ia suka menggoda teman-teman perempuannya, kalau ditegur dia akan bersikap cuek dan apabila dilarang oleh teman laki-lakinya maka aia tak segan menyerang. hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Tati, teman sekelas Sholek pada hari Kamis tanggal 24 Januari 2019 di sekolahnya.

“Sholek tuh sering mengejar-ngejar teman perempuan untuk dipeluk. Kadang sih mengeluarkan barangnya (alat kelamin) terus ditunjukkin ke kita. Kan kita pada lari, pada jerit-jerit, Bu. Kalau sama guru juga gitu ngomongnya kaya sama temannya aja.”(Tati, 2019)

Analisis Peranan Pola Asuh Orang Tua Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Agama Islam Pada Anak.

 Dalam teori Bandura ada dua hal penting yang sangat mempengaruhi perilaku manusia, yang pertama yaitu pembelajaran observasional (modeling) atau yang lebih dikenal dengan pembelajaran sosial, dan yang kedua adalah regulasi diri. Dalam hak ini, pola asuh memiliki peranaan yang sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai agama Islma pada anak yang akan berpengaruh terjadap sikap dan perilaku anak, karena pada usia ini anak belum berada ditahap kematangan berpikir dan kematangan intelektual, sehinga konsep regulasi diri belum sepenuhnya muncul dari dalam diri mereka.

Dari beberapa tipe pola asuh orang tua yang ada di Desa Muara, sebenarnya pola asuh Autoritarian dan Autoritative adalah pola asuh yang tepat untuk anak. Akan tetapi pola asuh yang demikain tidak akan berhasil karena tidak adanya isi (Pengetahuan) orang tua akan nilai-nilai yang harus mereka tanamkan terhadap anak.

Kalau dalam pembelajaran di kelas ada yang mengatakan istilah : “Atthoriqotu ahammu min al-maadah”. Maka menurut peneliti dalam memberikan pola asuh orang tua hendaknya tidak hanya memperhatikan caranya tapi juga isinya. Dengan demikian istilah tersebut bisa sedikit dirubah menjadi “Atthoriqotu wal-Maadah syaiani muhimmataani”.

Menurut analisis peneliti, ada 3 (tiga) faktor yang memepengaruhi perilaku seseorang dan perilaku tersebut harus diajarkan dan dicontohkan orang tua sejak dini, ketiga faktor tersebut adalah: kognisi, lingkungan keluarga, dan lngkungan masyarakat sekitar.

Lingkungan keluarga berada di posisi tengah, yaitu diantara kognisi dan lingkungan sekitar, maka dapat kita pahami bahwa kelurga mempunyai peranan yang sangat penting bagi perlaku anak, dimana ketika keluarga mampu memberikan pola asuh yang tepat terhadap anak (menamkan nilai-nilai agam Islam) maka kognisi anak pun akan berjalan dengan baik, sehingga seburuk apapun lingkungan sekitarnya, jika  pendidikan keluarganya kuat dalam menanamkan nilai-nilai agama yang dalam hal ini dikaitkan dengan pola asuh orang tua. Maka, ia tidak akan terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya.

 

Daftar Pustaka

Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 1996

Darajat, dkk, Dasar-dasar Agama Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1984

Fuad Ihsan, Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 2010

John W. Creswell, Research Desaign: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methode Approaches, New Delhi : Sage Publications, 2003

John W. Creswell, Research Desaign: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan mixed, Jogjkarta : Pustaka Pelajar, 2010

Lexi J. Moeloeng, Metode Penelitian Kualitati, Bandung : Remaja Rosda Karya, 2002

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung : Remaja Rosda Karya, 2011

Ni Luh Putu Yuni Sanjiwani dkk, Jurnal Psikologi Udayana : Pola Asuh Permisif Ibu dan Perilaku Merokok Pada Remaja Laki-laki di SMA Negeri Semarapura, Vol.1, No.2, 2014

Ricard M. Lerner, Human Development : A life span perspective, Amerika : McGraw-Hill, 1983

Singgih D. Gunarsa dan Yulia Singgih D. Gunarsah, Psikologi Remaja, Jakarta : Gunung Mulia 2007

Suharsimi Arikunto, Prosedur  Penelitian Sebuah Pendekatan Praktek, Yogyakarta : Rineka Cipta, 2010

Syaiful Bahri Djamarah, Pola Asuh Orang Tua dan Komunikasi Keluarga, Jakarta : Rineka Cipta, 2014

Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2008

Toto Suryana, dkk  Pendidikan Agama Islam : Untuk Perguruan Tinggi. Bandung : Tiga Mutiara, 1996

Wibawati Bemi, Jurnal Al Lubab : Internalisasi Nilai-nilai Agama Islam Untuk Membentuk Sikap Dan Perilaku Siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Mukminun, Volume 1, No.1 Tahun 2016